Jakarta, 2025 – Pusat Unggulan IPTEKS (PUI) Pendeteksi Bakteri Patogen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang dipimpin oleh Prof. Muktiningsih kembali menghasilkan inovasi di bidang keamanan pangan melalui pengembangan kit deteksi Salmonella typhi berbasis Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Real-Time PCR (RT-PCR). Inovasi ini dikembangkan sebagai metode deteksi molekuler yang mampu mengidentifikasi target bakteri secara cepat, spesifik, dan akurat untuk mendukung pengawasan keamanan pangan di Indonesia.
Sebagai bagian dari uji efikasi produk pada tahun 2025, tim peneliti melakukan pengujian terhadap 30 sampel daging ayam mentah yang diperoleh dari pasar tradisional di lima wilayah DKI Jakarta, yaitu Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur. Pengujian dilakukan menggunakan tiga pendekatan, yaitu kultur mikrobiologi, PCR konvensional, dan Real-Time PCR.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh 30 sampel daging ayam mentah berhasil terdeteksi positif menggunakan metode PCR konvensional maupun Real-Time PCR. Pada pengujian Real-Time PCR, seluruh sampel menghasilkan nilai Cycle Threshold (Ct) berkisar antara 26,18–31,45, yang seluruhnya berada di bawah batas cut-off positif (Ct < 33). Nilai Ct tersebut menunjukkan bahwa target DNA berhasil diamplifikasi dengan baik pada seluruh sampel yang diuji. Selain itu, analisis kurva leleh (melting curve) memperlihatkan satu puncak (single peak) pada setiap sampel dengan rentang nilai Tm 82,00–83,68°C, yang konsisten dengan kontrol positif (83,02 ± 1°C). Keseragaman nilai Tm dan terbentuknya single peak mengindikasikan bahwa amplifikasi berlangsung secara spesifik terhadap target gen tanpa adanya pembentukan produk amplifikasi non-spesifik maupun primer-dimer. Hasil ini menunjukkan bahwa kit deteksi yang dikembangkan memiliki kinerja yang baik dalam mengidentifikasi target DNA pada sampel pangan serta menghasilkan performa analisis yang konsisten selama pengujian.
Selain memberikan hasil yang konsisten, metode Real-Time PCR juga menunjukkan keunggulan dari sisi waktu analisis. Dibandingkan metode kultur yang memerlukan waktu hingga sekitar 18 jam atau lebih, deteksi menggunakan Real-Time PCR dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari dua jam, sehingga berpotensi mempercepat proses skrining keamanan pangan dan mendukung pengambilan keputusan secara lebih cepat.
Mendukung Pengawasan Keamanan Pangan di DKI Jakarta
DKI Jakarta merupakan salah satu wilayah dengan tingkat konsumsi daging ayam yang sangat tinggi. Sebagai pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan nasional, kebutuhan masyarakat terhadap protein hewani dipenuhi melalui distribusi daging ayam yang setiap hari dipasarkan di berbagai pasar tradisional maupun modern. Kondisi tersebut menjadikan pengawasan keamanan pangan sebagai aspek yang sangat penting untuk memastikan pangan yang dikonsumsi masyarakat aman, bermutu, dan tidak berisiko terhadap kesehatan.
Dalam penelitian ini, pengujian terhadap 30 sampel daging ayam mentah yang berasal dari lima wilayah administrasi DKI Jakarta menunjukkan bahwa seluruh sampel yang diuji terdeteksi positif menggunakan metode PCR dan Real-Time PCR. Temuan ini menjadi perhatian penting dan menunjukkan perlunya peningkatan kewaspadaan terhadap potensi kontaminasi mikrobiologis pada pangan asal hewan. Meskipun hasil penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menggambarkan kondisi seluruh daging ayam yang beredar di DKI Jakarta, hasil tersebut mengindikasikan bahwa pengawasan keamanan pangan perlu terus diperkuat melalui sistem pemantauan yang lebih cepat, akurat, dan berkelanjutan.
Menurut tim peneliti, kondisi ini menjadi pengingat bahwa keamanan pangan merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, pedagang, hingga masyarakat sebagai konsumen. Upaya pencegahan perlu dilakukan sejak hulu hingga hilir, mulai dari penerapan higiene dan sanitasi pada proses pemotongan, penyimpanan, distribusi, hingga penanganan pangan di tingkat pedagang.
Selain itu, edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai keamanan pangan juga perlu terus ditingkatkan. Konsumen perlu memahami pentingnya memilih bahan pangan dari sumber yang terpercaya, menjaga kebersihan selama proses pengolahan, menghindari kontaminasi silang antara bahan mentah dan makanan siap saji, serta memastikan daging ayam dimasak hingga matang sempurna sebelum dikonsumsi. Langkah-langkah sederhana tersebut berperan penting dalam menurunkan risiko penyakit bawaan pangan (foodborne disease).
Melalui penelitian ini, PUI Pendeteksi Bakteri Patogen UNJ juga menunjukkan bahwa teknologi diagnostik molekuler berbasis PCR dan Real-Time PCR memiliki potensi besar untuk mendukung sistem surveilans keamanan pangan di Indonesia. Dengan kemampuan mendeteksi target secara cepat dan spesifik, teknologi ini diharapkan dapat membantu pemerintah dan laboratorium pengujian dalam melakukan pemantauan secara lebih efektif, sehingga potensi kontaminasi dapat diidentifikasi lebih dini dan tindakan pengendalian dapat segera dilakukan demi melindungi kesehatan masyarakat.
Inovasi Karya Anak Bangsa
Kit deteksi yang dikembangkan oleh PUI Pendeteksi Bakteri Patogen UNJ merupakan hasil riset yang menggabungkan pendekatan biologi molekuler dengan kebutuhan praktis laboratorium pengujian pangan. Melalui teknologi PCR dan Real-Time PCR, proses identifikasi target bakteri dapat dilakukan secara lebih cepat dibandingkan metode konvensional, dengan tetap mempertahankan tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi.
Pengembangan teknologi ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas nasional dalam menghasilkan produk diagnostik berbasis riset dalam negeri, sekaligus mendukung kemandirian Indonesia di bidang teknologi kesehatan dan keamanan pangan.
Fokus Pengembangan Menuju Hilirisasi
Setelah berhasil menyelesaikan tahap pengembangan dan uji efikasi pada tahun 2025, langkah berikutnya yang menjadi fokus PUI Pendeteksi Bakteri Patogen UNJ adalah hilirisasi hasil riset agar dapat dimanfaatkan secara lebih luas.
Proses hilirisasi akan diarahkan pada penyempurnaan produk sesuai kebutuhan pengguna, standardisasi mutu, validasi lanjutan, serta penguatan kerja sama dengan pemerintah, laboratorium pengujian, industri pangan, dan mitra strategis lainnya. Dengan demikian, kit deteksi yang dikembangkan tidak hanya menjadi luaran penelitian, tetapi juga dapat diimplementasikan sebagai teknologi pendukung pengawasan keamanan pangan di Indonesia.
Melalui hilirisasi tersebut, PUI Pendeteksi Bakteri Patogen UNJ berharap inovasi ini dapat berkontribusi dalam mempercepat deteksi mikrobiologi pangan, mendukung sistem pengawasan yang lebih responsif, serta memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat melalui penyediaan pangan yang lebih aman.
(JLD)