Jakarta — Meningkatnya kasus dugaan keracunan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menyoroti pentingnya sistem keamanan pangan yang cepat dan akurat. Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti dari Pusat Unggulan IPTEKS (PUI) Pendeteksi Bakteri Patogen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengembangkan teknologi deteksi bakteri patogen berbasis real-time Polymerase Chain Reaction (real-time PCR) yang mampu memberikan hasil pengujian dalam waktu singkat.
Kasus dugaan keracunan pangan terbaru terjadi pada ratusan siswa di Jakarta Timur setelah mengonsumsi menu MBG. Para siswa dilaporkan mengalami mual, pusing, dan sejumlah gejala lainnya. Berdasarkan investigasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, sebagian besar kasus keracunan pangan yang sebelumnya terjadi di sejumlah wilayah disebabkan oleh kontaminasi bakteri, seperti Escherichia coli, Salmonella, Staphylococcus aureus, hingga Bacillus cereus.
Persoalan tersebut menjadi perhatian serius para peneliti UNJ sejak beberapa tahun terakhir. Sejak 2016, tim peneliti secara intensif mengembangkan metode pendeteksian bakteri patogen yang dapat digunakan untuk mendeteksi kontaminasi pangan secara cepat dan spesifik.
Teknologi yang dikembangkan berupa IndoGenPro Foodborne Pathogen Detection Kit, yakni alat deteksi berbasis real-time PCR yang bekerja menggunakan metode deteksi cepat berbasis asam nukleat. Dibanding metode konvensional yang dapat memakan waktu hingga delapan jam, alat ini mampu memberikan hasil pemeriksaan hanya dalam waktu sekitar 1–2 jam.
Salah satu peneliti muda yang tergabung dalam PUI Pendeteksi Bakteri Patogen UNJ, Jefferson Lynford Declan, mengatakan bahwa kit tersebut telah digunakan dalam beberapa investigasi kasus keracunan pangan, termasuk pada sejumlah kasus MBG.
“Para dosen UNJ mengembangkan kit pendeteksi patogen yang siap dihilirisasi,” ucapnya dalam kegiatan Diseminasi Pengabdian kepada Masyarakat UNJ di Jakarta, akhir April 2026.
Jefferson menilai teknologi tersebut memiliki potensi pemanfaatan yang luas, termasuk untuk mendukung investigasi kasus keracunan pangan oleh aparat penegak hukum.
“Kami yakin kit pendeteksi bakteri patogen ini dibutuhkan banyak lembaga. Seperti di kepolisian, sering kesulitan untuk bisa menangani kasus keracunan pangan. Dengan kit ini, pendeteksian bisa lebih cepat dan akurat,” kata Jefferson.
Penelitian ini dipimpin oleh Guru Besar Biokimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNJ, Prof. Dr. Muktiningsih Nurjayadi, M.Si. Bersama tim dosen dan mahasiswa, mereka telah mengembangkan sedikitnya 13 master diagnostic kit untuk mendeteksi berbagai bakteri penyebab penyakit bawaan pangan (foodborne pathogens), di antaranya Salmonella typhi, Escherichia coli, Shigella flexneri, Staphylococcus aureus, dan Listeria monocytogenes.
Menurut Muktiningsih, kebutuhan terhadap alat deteksi cepat semakin mendesak seiring meningkatnya kasus keracunan pangan di berbagai daerah.
“Ini agar penanganan kasus dapat segera diatasi dan banyaknya korban dapat dikurangi,” katanya.
Ia menjelaskan, metode real-time PCR yang digunakan memiliki tingkat sensitivitas dan spesifisitas tinggi sehingga mampu mendeteksi bakteri target pada konsentrasi rendah dengan hasil yang lebih cepat dibanding metode kultur maupun immunoassay.
“Saat ini metode PCR masih menjadi metode terkuat dan banyak dipakai dalam mendeteksi bakteri food pathogen pada industri makanan dan industri farmasi,” kata Muktiningsih.
Keandalan kit deteksi tersebut juga telah diuji dalam beberapa investigasi kasus MBG. Dalam salah satu kasus keracunan pangan berbahan seafood di Kalimantan Barat, tim peneliti menemukan bakteri Vibrio parahaemolyticus dan Vibrio alginolyticus pada filet ikan hiu yang disajikan.
“Karena memang untuk pengujian di seafood itu belum atau bisa dikatakan masih jarang. Keunggulan dari kit kecepatannya. Kami bisa mendeteksi bakteri itu kurang dari dua jam,” ujar Jefferson.
Selain untuk investigasi kasus keracunan pangan, teknologi ini juga dinilai berpotensi digunakan pada industri makanan dan minuman, laboratorium pengujian, badan karantina, hingga sektor peternakan untuk mendukung sistem keamanan pangan nasional.
Atas inovasi tersebut, IndoGenPro Foodborne Pathogen Detection Kit berhasil meraih peringkat kelima dalam ajang Indonesia’s SDGs Action Awards 2025 yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Tim peneliti optimistis teknologi hasil riset UNJ tersebut siap memasuki tahap hilirisasi dan komersialisasi guna memperluas pemanfaatannya di berbagai sektor.
(*)
Sumber: Disadur dari Kompas melalui tautan berita berjudul “UNJ Kembangkan Kit Pendeteksi Bakteri Patogen untuk Cegah Keracunan dari Makanan”
https://www.kompas.id/artikel/kit-pendeteksi-bakteri-patogen-untuk-mencegah-keracunan-pangan
Tim Media PUI Pendeteksi Bakteri Patogen - 2026
(PN)